[OneShot] Do You Know?

do-you-know-ly

Title : Do You Know? (아시나요)

Author : Liviayeon

Genre : Songfic, Romance, Sad, School life

Rating : T

Cast :

  • Do Kyungsoo (EXO)
  • Jung Eunbi (OC)

Cover by : OhYerin @Art Zone

Length : Oneshot (2000+ word)


Jo Sung Mo / Wendy (Red Velvet) – Do you know


Semilir angin yang berhembus meruntuhkan dedaunan maple kering dari tangkainya. Membawa aroma yang khas disetiap musimnya. Ditengah hamparan rumput hijau yang luas, disitulah berdiri sebuah pohon maple. Tempat Kyungsoo dan Eunbi biasa menghabiskan waktu bersama.

Eunbi menyandarkan kepalanya dipundak Kyungsoo. Sedang Kyungsoo masih sibuk menatap langit biru diatasnya yang dihiasi awan-awan tipis. Alunan musik ballad dari earphone yang terpasang di salah satu telinga mereka, memperdalam suasana romantis itu.

Do you know how much I loved you~

“Eunbi-ah, mau dengar sesuatu?” tanya Kyungsoo tak melepaskan pandangannya pada langit biru.

“Tentang apa?” tanya Eunbi sambil menjauhkan kepalanya dari pundak Kyungsoo untuk menatap wajah Kyungsoo.

Ada jeda yang cukup lama, ketika Kyungsoo menatap lekat manik mata Eunbi.

“Aku mencintaimu lebih dari seorang teman–”

“–jika kau tahu perasaanku, apakah kita bisa berteman seperti dulu lagi?” tanya Kyungsoo sambil tersenyum kering.

Because tears came out again when I saw you~

“Kyung-ah kita teman ‘kan?” tanya Eunbi dengan mata terpejam bersandar dipundak Kyungsoo.

Pertanyaan itu menyadarkan Kyungsoo dari imajinasinya. Suatu khayalan yang membawanya terlalu jauh pada kenyataan bahwa ia masih duduk disamping Eunbi. Menatap Eunbi yang masih terpejam dipundaknya, mungkin tertidur.

I had to avoid looking at you~

“Ya, kita teman.” ucap Kyungsoo dengan hati yang teriris.

Do you know how much I waited for you~

10 tahun yang lalu…

Eunbi kecil, usia 7 tahun, meringkuk didepan gerbang pintu rumahnya yang terbuka lebar. Bayangan mobil itu menjauh, semakin kecil kemudian menghilang dari pandangannya. Hembusan napasnya membentuk asap yang tidak teratur menandakan bahwa ia sedang menangis. Berulang kali seorang pria tua dengan dagu bergelambir membujuknya untuk masuk ke dalam rumah. Namun sia-sia karena gadis kecil itu bersikeras untuk tidak beranjak dari tempatnya.

“Eomma dan appa tidak sayang pada Eunbi, hiks.” isak gadis kecil itu disela-sela tangisnya.

“Eomma dan appa bukan tidak sayang. Bukankah Eunbi ingin di belikan sepeda dan mainan yang banyak? Eomma dan appa tidak akan pergi lama, jadi Eunbi jangan menangis ne?” bujuk pria tua itu.

“Eunbi ingin ikut dengan eomma dan appa saja, hiks. Eunbi janji tidak akan mengganggu eomma dan appa lagi, hiks.”

Gadis itu terus menangis. Pria tua itu tidak bisa berbuat banyak. Ia tahu gadis kecil di depannya itu sangat kesepian. Dirumah besar Eunbi, hanya tinggal beberapa asisten rumah tangga ketika orang tuanya pergi. Gadis kecil itu bahkan tak memiliki teman bermain layaknya anak-anak seusianya.

Hiding in the street you went on~

Greek!

Tiba-tiba seorang lelaki bertubuh kecil, keluar dari gerbang pintu yang terletak tepat disamping rumah Eunbi bersama seorang wanita muda yang selalu setia mengikutinya. Lelaki kecil itu merasa tertarik melihat Eunbi yang duduk menangis disamping rumahnya. Ia berjongkok didepan Eunbi sambil memperhatikan setiap sudut wajah Eunbi dengan tatapan polosnya.

“Wajahmu seperti malaikat.” ucap lelaki kecil itu yang dibalas tatapan penuh tanda tanya oleh Eunbi. Tangisan Eunbi perlahan tak terdengar lagi.

“Siapa namamu? Apa kau anak baru? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya.”

Eunbi menghapus sisa air mata diwajah kecilnya. Tatapanya menyambut baik lelaki kecil itu.

“Aku tinggal di sini sejak lahir, namaku Eun.”

“Benarkah? Kalau begitu kita adalah tetangga. Namaku Kyung, mau main denganku? Dirumahku ada halaman belakang yang luas dan banyak cokelat, kau pasti akan menyukainya.” ucap Kyungsoo kecil penuh semangat.

“Benarkah? Apa aku boleh masuk?”

“Tentu saja, ayo.”

“Gomawo.”

Dengan senang hati Kyungsoo menerima Eunbi masuk dalam kehidupannya. Singkat cerita, Kyungsoo berjanji akan selalu menemani Eunbi saat Eunbi merasa kesepian.

Waited long at least to look at the back of you going as much I want~

–oOo–

Di lain hari, ketika sesuatu yang besar terjadi antara Kyungsoo dan Eunbi.

“Neul, apa kau pecaya pada ucapan pria?” tanya Eunbi pada Haneul-teman sebangkunya-sambil melirik sekilas ke arah Kyungsoo yang tengah membaca buku dan duduk tak jauh dari tempat Eunbi. Eunbi rupanya sengaja membesarkan volume suaranya agar didengar oleh Kyungsoo.

“Eum, tergantung seperti apa ucapannya. Aku bisa percaya pada ucapan ayahku.” ucap Haneul sambil melahap snacknya.

“Bagaimana perasaanmu jika pria itu melanggar ucapannya?” tanya Eunbi masih melirik ke arah Kyungsoo yang masih terlihat tenang.

“Memangnya siapa yang kau maksud?” tanya Haneul.

Eunbi terdiam, ia tak bisa mengatakan bahwa orang itu adalah Kyungsoo. Sebenarnya Haneul sudah tahu jika Eunbi dan Kyungsoo bertengkar. Haneul mengenal Eunbi dengan baik, Eunbi bukan tipe orang yang mudah marah begitu saja.

“Mungkin lebih baik, kau mendengarkan penjelasannya dulu, sebelum menyimpulkannya. Apa kau marah hanya karena ia tidak datang kepesta ulang tahunmu? Bukankah ia bersamamu setiap hari, meski bukan di hari ulang tahunmu?”

“Tapi …” Eunbi menghembuskan napasnya. ‘Kau tidak tahu, sebenarnya saat itu aku ingin mengatakan perasaanku pada Kyungsoo.’ ucap Eunbi dalam hati.

If you ask me why I didn’t tell you those things~

Can’t answer nothing cause my heart aches~

I just want you to remember like it is, knowing nothing, us and me~

–oOo–

Eunbi masih menolak untuk bicara dengan Kyungsoo, bahkan untuk sekedar menyapanya. Ia berusaha terlihat kuat diluar, namun saat ia sendirian atau tidak ada satupun orang yang bicara dengannya, diam-diam Eunbi mulai meneteskan air mata. Eunbi merasa sakit. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sendiri. Rasanya seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga.

Do you know how hard it was~

Disisi lain Kyungsoo sama sekali tidak melepaskan sedikit pun perhatiannya pada Eunbi. Kemanapun Eunbi pergi, ia akan selalu memperhatikan Eunbi dari kejauhan, dari sisi yang tidak bisa dijangkau Eunbi. Itulah cara Kyungsoo menepati janjinya.

Eunbi duduk sendirian dikursi taman, ia terlihat menutup wajahnya, dan bahunya bergetar.

‘Aku tidak tahu apa yang membuatmu menangis, tapi kali ini aku tidak bisa bersamamu karena beberapa alasan.’ ucap Kyungsoo dalam hati sambil menatap Eunbi dari lantai dua di balik jendela ruang musik.

I got so much to say, maybe I could say them if I become unable to hear~

Suatu hari, pengakuan mengejutkan keluar dari mulut seorang lelaki tampan dari kelas tetangga, namanya Kim Kai. Bisa dibilang Eunbi termasuk dalam daftar gadis populer di sekolahnya, kandidat yang pantas untuk disandingkan dengan lelaki bermarga Kim tersebut. Kai berdiri didepan kelas Eunbi sehingga semua orang dapat melihatnya, termasuk Kyungsoo yang duduk dikelas itu.

“Mulai hari ini Jung Eunbi adalah miliku. Jadi jangan mengganggunya atau kalian akan berurusan denganku.” ucap Kai sambil melingkarkan lengannya dipundak Eunbi yang berdiri disampingnya.

Tidak ada penolakan dari Eunbi seperti yang biasanya ia lakukan pada laki-laki lain yang menggodanya. Ia terlihat biasa. Tidak marah, atau tersenyum. Ia terus mengalihkan pandangannya ke tempat lain ketika Kyungsoo menatapnya. Tiba-tiba …

Cup!

Kai mencium pipi Eunbi sekilas. Hingga semua orang mulai berseru karena kejadian mengejutkan itu. Kyungsoo mengalihkan konsentrasinya pada buku di mejanya, berharap semua yang dilihatnya itu dapat hilang dari ingatannya.

You didn’t know I’m fine even if you don’t know my suffering heart till the end~

Haneul menatap Kyungsoo dengan tatapan sedih. Ia sendiri tidak mengerti situasi ini. Yang ia tahu Eunbi sama sekali tidak menyukai Kai, meskipun seluruh gadis seantero sekolah memujanya.

–oOo–

Sebelum acara kelulusan disekolah menengah itu selesai. Kyungsoo dijemput sebuah mobil hitam dan melesat pergi. Ia bahkan tak sempat mengucapkan pidato kelulusan sebagai siswa dengan nilai terbaik. Sejak hari itu Kyungsoo tak pernah mengabari siapapun tentang keberadaannya, termasuk teman baiknya sendiri, Eunbi.

Eunbi sangat kecewa karena tidak tahu keberadaan Kyungsoo. Setelah kepergian Kyungsoo, ia menangis setiap malam. Mengurung diri dikamarnya seperti kehilangan semangat hidup. Ia ingin marah, tapi tidak tahu siapa yang harus ia marahi.

Eunbi menyadari sesuatu, ia segera membuka tirai serta kaca jendela kamarnya. Eunbi menatap jendela kamar Kyungsoo dari kamarnya dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Mereka adalah tetangga, ingat.

“Kyung-ah! Do Kyung Soo! Kyungsoo-ah!” Eunbi meneriaki nama Kyungsoo berulang kali, berharap sebuah kejaiban berpihak padanya. Ia tak peduli lagi jika orang-orang menganggapnya sudah gila.

“Apa kau bisa mendengarku?!”
Sia-sia. Tirai jendela kamar Kyungsoo tidak bergeser sedikit pun. Eunbi mulai frustasi. Air matanya tak berhenti mengalir.

“Kumohon, jangan seperti ini!” Eunbi mulai kehabisan tenaga. Matanya sembab menandakan sudah terlalu banyak air mata yang dikeluarkannya.

I lived with power of longing for you~

If you dont exist, I don’t exist~

–oOo–

8 tahun kemudian…

Sebuah mobil sedan hitam memasuki garasi dirumah besar keluarga Do. Para asisten rumah tangga dirumah itu menyambut dengan antusias. Yang keluar dari dalam mobil itu adalah Do Kyung Soo, putra tunggal presdir Do.

Kyungsoo membuka pintu kamarnya. Tidak banyak perubahan disana. Hanya tirai dan seprai yang terlihat sudah diganti, sedikit lebih rapih dari sebelumnya.

Ia berdiri didepan cermin sambil membuka kancing teratas kemeja putih yang membalut tubuhnya. Kemudian memilih merebahkan tubuhnya diranjang berukuran king size itu.

No matter how many times I get born again and leave again~

Matanya memang menatap langit-langit kamarnya, namun pikirannya menerawang. Hingga akhirnya, Kyungsoo menyadari sesuatu. Ia beranjak mendekati jendela kamarnya, menggeser tirai yang menghalangi sinar matahari masuk ke dalam. Ia tertuduk lesu. Matanya menatap lurus jendela kamar Eunbi yang tertutup rapat.

“Maaf…” gumam Kyungsoo.

There won’t be a world like this one where I met you~

This world is beautiful probably because it has your traces~

–oOo–

Sebuah gedung dengan pagoda kayu dipintu masuknya yang tulisannya jika diartikan adalah ‘rumah khusus anak-anak penderita kanker’.

“Dokter Do?”

Seorang pria tua dengan setelan jas kini berdiri didepan Kyungsoo.

“Itu aku.”

“Senang bertemu denganmu. Aku Lee Jeong, panggil aku pak Lee saja. Kau terlihat jauh lebih baik dari yang kubayangkan. Haha, aku bercanda.” ucap pak Lee sambil tertawa kering. Kyungsoo hanya tersenyum menanggapi.

“Kalau begitu, langsung saja kita masuk.”

“Baiklah.”

Pemilik tempat itu mengantarkan Kyungsoo kesebuah ruangan yang berisi anak-anak penderita kanker, namun belum terlalu parah. Hingga sepasang matanya menangkap sesosok wanita muda dengan rambut yang diikat tinggi sedang menghibur anak-anak diruangan itu.

Seluruh penghuni ruangan itu kini terdiam ketika melihat Kyungsoo dan pak Lee masuk.

“Anak-anak, ini adalah dokter Do, dokter baru kita. Bersikaplah baik padanya okay?”

“Hai, dokter Do!” seru anak-anak itu secara kompak.

“Hai juga, senang bertemu kalian. Panggil aku oppa saja ne?” ucap Kyungsoo sambil mengembangkan senyum indahnya. Bibirnya bahkan membentuk love ketika tersenyum.

“Ne!” jawab anak-anak itu serempak. Mereka semua terlihat bahagia karena kedatangan Kyungsoo.

“Dan ini … Jung Eun Bi, salah satu psikolog disini.”

Mereka saling menatap satu sama lain. Mencoba mencerna situasi yang baru saja terjadi dalam pikiran mereka. Seperti kejutan, sebuah kejutan yang terlambat datang.

If you ask me why I didn’t tell you those things~

Can’t answer nothing cause my heart aches~

I just want you to remember like it is, knowing nothing, us and me~

“Jadi, bagaimana kabarmu?” tanya Eunbi.

“Baik, kau sendiri?” tanya Kyungsoo balik.

“Baik, apa pekerjaanmu?”

“Aku dokter spesialis kanker. Kau sendiri?”

“Aku psikolog disebuah rumah sakit, jika butuh konsultasi mengenai kejiwaan kau bisa menghubungiku.” ucap Eunbi sambil memberikan kartu namanya.

“Jadi, apa kekasihmu tidak marah jika kau duduk bersamaku?” tanya Kyungsoo.

“Bukan kekasih… Seharusnya aku yang bertanya, apa kekasihmu tidak marah jika kau duduk bersamaku?”

“Aku belum. Bagaimana dengan kekasihmu?” tanya Kyungsoo menyadari perubahan ekspresi di wajah Eunbi.

“Bukan kekasih, dia…” Eunbi menggantungkan kalimatnya.

“Dia suamiku.”

“Suami?”

Eunbi menghela napasnya.

“Kau tidak tahu yang sebenarnya. Aku dijodohkan … Aku ingin kau datang ke pesta ulang tahunku, tapi kau tidak pernah datang. Padahal saat itu aku ingin mengungkapkan perasaanku padamu agar aku bisa hidup bersamamu. Aku benci mengatakannya, setelah itu, semua menjadi berantakan. Kita malah saling mengabaikan.” ucap Eunbi dengan air mata yang mulai berjatuhan. Eunbi tak bisa mengontrol emosinya.

“Malam itu, aku kehilangan ibuku untuk selamanya. Aku pergi ke amerika untuk bertemu ayahku. Semua itu membuatku ingin menjadi dokter yang bisa menyembuhkan penyakit yang sama dengan yang diderita ibuku. Aku tidak ingin mengatakan padamu karena aku tahu semua ini salahku. Itu pilihan yang sulit.” jelas Kyungsoo.

“Kau tidak mengatakan apapun padaku?”

“Jadi … siapa suamimu?” tanya Kyungsoo sambil tersenyum selepas mungkin.

“Dia Kai, pria brengsek yang waktu itu. Aku baru sadar, sebenarnya dia bukan pria yang buruk.”

“Kalau begitu, selamat atas pernikahanmu.”

“Maaf telah membuatmu menceritakan masa lalu yang menyedihkan. Aku turut berduka cita.”

“Jika dipikir ini sungguh menggelikan.”

“Bukankah dulu kita berteman baik?”

“Aku merindukannya.”

“Aku juga…”

Sad today is the last day you and me standing together under the same sky~

Do you know~

END

A/N :
Terimakasih sudah membaca. Songfic yang gagal. Segala sesuatu yang tidak sesuai. Maaf XD)
Review??

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s