[OneShot] Angel

angel1

Baekhyun, OC // Songfic, Fantasy, Romance // Oneshot //

-Special Baekhyun Birthday-

Poster by :
ABL @Story Poster Zone

Disclaimer :
This story pure is mine. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, alur, dll. Itu merupakan ketidaksengajaan. Unsur dalam cerita tidak berdasarkan kenyataan atau fakta sesungguhnya. Adapun sebagian dibuat menurut pandangan terhadap suatu karangan yang menceritakan hal yang sama. Don’t be plagiators and siders!

©2016 Liviayeon present

I, who has fallen in love with no other place to go back.
My wings have been talen away.
Even though I lost my everlasting life,
the reason to my happiness, you are my eternity.
Eternally love.

-Angel by EXO-K-

–oOo–

“Eun Ji-ssi.”

Terdengar lirih dan mengganggu.

Sesosok makhluk bersinar yang bukan berasal dari bumi mencoba membangunkan gadis yang terbaring tak sadarkan diri diatas lantai marmer –Eun Ji. Gadis itu sama sepertinya, kasat mata.

“Kau bisa mendengarku?” tanyanya.

Eun Ji mengerjap, menyesuaikan kadar cahaya yang masuk dalam indra penglihatannya. Samar-samar. Ia melihat sosok lelaki bersinar dengan sayap seperti merpati. Rambutnya hitam ditata menyamping, wajah yang mungil, mata yang agak sipit serta iris yang berwarna kebiru-biruan.

Eun Ji terperanjat, memposisikan tubuhnya berdiri didepan makhluk bersinar itu. Matanya dapat dengan jelas menatap wajah makhluk bersinar yang kini tersenyum dengan polosnya didepan wajahnya.

“S-siapa kau?!” Menunggu jawaban makhluk itu, Eun Ji mengawasi sekelilingnya. Ia sedang berada di sebuah koridor rumah sakit yang dilewati banyak orang. Anehnya, tidak ada satu pun orang yang menyadari keberadaan Eun Ji yang sedari tadi terbaring, selain makhluk bersinar itu.

Secara ajaib, sayap putih dan efek bersinar ditubuh makhluk itu menghilang. Sekarang makhluk itu lebih tampak seperti manusia. Kemeja putih yang digulung hingga lengan, celana hitam polos mencapai punggung kaki, serta pantofel hitam dengan ujung kotak. Memberinya kesan manis dan lugu.

“Aku, guardian angel.”

Gadis bermata hazel itu tak bisa berkata-kata, mulutnya bahkan membentuk huruf ‘O’.

Tampaknya, Eun Ji belum sepenuhnya percaya pada pengakuan itu. Ia mencoba meminta penjelasan pada orang-orang yang lewat disekitarnya. Berharap semua ini hanya sebatas lelucon. Tapi percuma, mereka bahkan mengabaikan Eun Ji seperti orang tuli dan orang buta.

Tanpa sengaja, Eunji menatap cermin yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Lututnya melemas, tubuhnya merosot ke lantai.

“Hh! Manusia memang aneh,” lirih malaikat itu.

Eun Ji menatap satu-satunya orang yang bisa diajaknya bicara. “Kemana kau akan membawaku?”

(( Flashback ))

Langkah-langkah kecil dan teratur siap menembus tetesan air yang jatuh dari langit kelabu. Senyuman terlihat jelas diwajah mungil kedua anak yang merupakan saudara kembar. Sesekali sepasang mata mereka mengawasi sekeliling koridor sepi di rumah sakit umum yang sekarang sudah seperti tempat tinggal bagi mereka.

Hyun dan saudara kembarnya Eun, telah berhasil mencapai halaman depan tanpa ketahuan orang yang bertugas mengawasi mereka. Kini mereka menari-nari dengan bebas ditengah hujan.

“Oppa, aku senang sekali.”

“Aku juga. Hujan memang menyenangkan.”

Mereka bergandengan tangan, melompat kecil sambil menari dengan gerakan berputar. Mereka tidak tampak seperti anak-anak yang sedang sakit. Justru sebaliknya, mereka tersenyum tanpa rasa sakit.

“Tuan Hyun, nona Eun. Kesini! kalian belum sembuh benar.”

Seorang wanita muda tampak panik melihat aksi yang terjadi didepan matanya. Ekspresi bahagia yang terpancar di wajah kedua anak itu kini seakan mengejeknya.

Seorang pria berjas putih kini membawa paksa kedua anak itu dari tengah hujan.

“Appa, m-mian. Ini salahku,” lirih lelaki kecil yang basah kuyub itu pada pria yang merupakan ayah kandungnya. Sedang saudara perempuannya tak berhenti menangis.

Dokter itu mendesah. Sulit baginya untuk berpikir jernih saat ini.

Hyun dan Eun adalah saudara kembar tidak identik dengan kondisi yang kurang beruntung. Hyun, sejak lahir didiagnosa menderita kelaian jantung. Sedangkan Eun yang hanya berbeda 15 menit dari Hyun, didiagnosa menderita kelainan ginjal. Keadaan kedua anak itu semakin memburuk seiring berjalannya waktu.

Sebagai seorang ayah sekaligus dokter yang ingin sekali menyelamatkan nyawa kedua anaknya itu, ia berada dalam dilema besar. Hatinya terluka, ketika tahu bahwa hanya ada satu dari dua anaknya yang memiliki kesempatan untuk selamat

–oOo–

“Eun, aku ingin jadi malaikat dan melindungimu,” ucap lelaki kecil itu dengan suara yang hampir menghilang.

“Malaikat seperti ibu?”

“Ya.”

“Tidak mau. Itu berarti aku tidak bisa melihat oppa lagi seperti ibu. Besok hujan akan turun. Bermain di hujan lagi bersamaku ya?” Gadis kecil itu menggenggam tangan saudara kembarnya yang terbaring lemah dengan bantuan alat bantu pernapasan.

“Tentu saja. Jadi Eun, jangan menangis.”

Gadis kecil itu mengulas senyum. Pikirannya mengarah ke saat dimana ia menari dengan bahagia bersama saudara kembarnya. Eun bisa lega hanya dengan sebuah senyuman yang menandakan ‘aku baik-baik saja’ dari saudara kembarnya. Dalam kondisi seburuk apapun, Eun akan merasa baik-baik saja karena Hyun disampingnya, begitu juga sebaliknya. Mereka membutuhkan satu sama lain. Namun terkadang, takdir bekerja dengan tidak adil.

–oOo–

“Jika saja waktu itu ayah menyelamatkan Hyun oppa, pasti ayah tidak perlu sesulit ini mengurusiku!”

Plaak!

Sebuah tamparan sukses mendarat dipipi Eun Ji.

“Itu membuatku sedikit lega. Ayah tahu? Bagaimana rasanya hidup dengan kenyataan bahwa saudaraku dibunuh hanya untuk mengambil bagian didalam tubuhku? Aku sangat tersiksa setiap kali ayah bersamaku.” Eun Ji meluapkan emosinya. Air matanya mengalir deras. Sedang lawan bicaranya hanya bisa terpaku.

Gadis itu membungkuk, menunjukkan sedikit rasa hormatnya kemudian meninggalkan tempat itu tanpa penjelasan lebih lanjut.

–oOo–

Eun Ji mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Ponsel yang diletakkan di dasbor mobilnya berdering tiba-tiba. Sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal.

“Halo….Benar, itu aku….Apa kau bilang?!….Sekarang dimana ayahku?!–”

Ponsel Eun Ji terjatuh. Padahal, ia belum sempat mendengarkan keterangan dimana ayahnya baru saja dirawat karena serangan jantung. Eun Ji benar-benar kalut. Ia berusaha mengambil ponselnya yang terjatuh dibawah kakinya. Tanpa disadarinya, sebuah mobil melintas dari sisi berlawanan.

(( Flashback End ))

Eun Ji menunduk dalam, saat cahaya matahari yang masuk ke sela-sela jendela menembus tubuhnya yang kasat mata.

Malaikat itu menyamai posisi didepan wajah Eun Ji. “Aku tidak membawamu kemanapun. Aku bukan scheduler. Aku ini guardian angel. Aku akan membawamu kembali ke tubuhmu sesuai waktu yang ditetapkan. Kau punya kesempatan hidup.” Malaikat itu mulai menjelaskan seperti cara manusia.

“Hidup? Jadi aku sudah mati?” tanya Eun Ji lambat-lambat.

Malaikat itu tampak frustasi. Ia memejamkan matanya, mengernyitkan dahi seolah kejadian buruk akan menimpanya. “Kau belum…”

“Apa yang terjadi dengan ayahku?”

“Soal itu…”

Malaikat itu meraih tangan Eun Ji. “Tutup matamu.” Eun Ji menurut.

Saat Eun Ji membuka matanya, sebuah pemandangan membuatnya tercengang. Disekelilingnya, orang-orang memakai pakaian serba hitam. Tanda berkabung.

Eun Ji melangkahkan kakinya untuk melihat sebuah bingkai foto yang terpajang rapih diatas meja kecil disisi ruangan itu lebih dekat lagi. Tubuh semampainya hampir tumbang, jika saja malaikat dengan iris kebiru-biruan itu tidak menangkapnya.

Sosok pria yang amat dikenalnya selama sembilan belas tahun terakhir. Kenyataan bahwa untuk selamanya, ia telah kehilangan ayahnya.

“Bisakah kau membawaku pergi juga?” tanya Eun Ji pada malaikat itu. Malaikat itu membalas dengan tatapan, ‘Hei! Aku tahu yang kau pikirkan.’

–oOo–

Mereka kini duduk dikursi taman dibawah pohon rindang. Malaikat itu mencoba membuat suasana tenang setelah apa yang menimpa Eun Ji.

“Aku punya banyak pertanyaan untukmu,” ucap Eun Ji dengan nada menantang.

“Aku tahu semuanya,” sahut malaikat yang kini lebih terlihat seperti lelaki biasa. Untuk ukuran lelaki biasa, malaikat itu tampak sempurna.

“Kau tahu?”

“Aku tahu semua yang ada dipikiranmu. Dasar gadis mesum!”

Pernyataan itu seakan menusuk Eun Ji tepat di jantung. Ia seperti pelaku yang terbukti bersalah. Malaikat itu, ternyata lebih mengerikan dari dugaannya.

“Pertama, misiku adalah menjagamu selama kau hidup di dunia, tapi kau bahkan tidak menyadarinya. Kedua, aku bukan hantu, aku malaikat penjaga. Ketiga, aku disini untuk tugas yang sama, menjaga agar kau bisa kembali sesuai dengan waktu yang ditetapkan. Keempat… jangan jatuh cinta padaku.”

“A-apa?” Eun Ji terbata, kalimat terakhir membuat hatinya ngilu. Ternyata malaikat bisa menjadi terlalu percaya diri, pikirnya.

Untuk sesaat suasana kembali hening. Membiarkan angin yang bersuara sementara mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.

“Kau bahkan bukan manusia,” ucap Eun Ji.

“Pada kenyataannya, kau membenci kenyataan itu. Jangan berpikir kau akan mengingat semuanya saat bangun nanti.”

“Sayang sekali, padahal aku baru saja akan menceritakannya pada orang-orang nanti,” ucap Eun Ji dengan nada mengejek.

“Kau merasa sedih?”

“Entahlah.”

“Kau tidak bisa menangis karena aku.”

“Mengapa harus kau?”

“Bersamaku, akan seperti sistem di Surga. Tidak mengenal air mata.”

“Benarkah? Seharusnya aku membawamu nanti saat aku bangun, agar aku tidak perlu menangis lagi. Itu melelahkan.”

Malaikat itu melirik Eun Ji sekilas.

“Butuh tempat untuk bersandar?” Malaikat itu mengisyaratkan bahunya. Eun Ji tak menyangka sesosok makhluk yang belum pernah dilihatnya selama hidup di dunia, kini menawarkan bahunya. Meski terdengar tidak terlalu istimewa, sesuatu seakan berhasil menyentuh hati Eun Ji.

Malaikat itu lebih tampak seperti seorang kakak laki-laki yang menghibur adik perempuanya. Terlihat tegas dan lembut diwaktu yang bersamaan.

Eun Ji menyandarkan kepalanya pada bahu malaikat itu. Ia tak pernah merasa senyaman ini sebelumnya. Hingga cukup baginya untuk memejamkan mata.

“Apa kau punya nama?” tanya Eunji.

“Hmm, ya.”

“Namamu?”

“Baek, karena sayapku yang putih bersih.”

Malaikat bernama Baek itu menatap Eun Ji yang berada dibahunya. Mengulas senyum secara diam-diam.

“Berapa umurmu? Aku yakin kau sangat muda,” celoteh Eun Ji karena wajah malaikat itu terlihat sangat soft layaknya remaja berusia 13 tahun. Meski Eun Ji tetap mengganggap bahwa dirinyalah yang lebih cantik dari pada malaikat itu.

“Jika di dunia manusia umurku sama seperti umurmu.”

“Begitu ya, jadi aku bisa memanggilmu ‘Baek’ tanpa embel-embel.”

“Kupikir kau bisa lebih pintar saat menjadi roh,” komentar Baek pada Eun Ji dengan nada mengejek.

–oOo–

Baek dan Eun Ji kini berjalan dikoridor rumah sakit. Meskipun sebenarnya Baek bisa membawa Eun Ji pergi kemanapun menggunakan kekuatan teleportasinya.

Suasana begitu tenang, tidak banyak manusia yang berlalu-lalang ditempat itu. Sekalipun ada, mereka tidak akan bisa melihat keberadaan Eun Ji dan Baek.

Baek membawa Eun Ji kesebuah ruangan. Disana, terdapat sebuah kasur yang membaringkan seorang gadis dengan berbagai alat bantu pernapasan yang membuatnya dapat bertahan.

Eun Ji melangkah mendekati tubuh gadis itu, dirinya.

“Aku lebih cantik dari dugaanku,” ucap Eun Ji sambil tersenyum miris.

Pintu ruangan itu terbuka. Seorang gadis bersurai kecoklatan masuk dengan membawa sebuket bunga mawar pink ditangannya. Eun Ji mengenal dengan baik siapa gadis itu. Sahabat sejak kecilnya, Lee Chae Rin. Ia sudah seperti keluarga bagi Eun Ji, begitu pun sebaliknya.

“Chae Rin-ah,” lirih Eunji dengan mata yang mulai berair.

Chae Rin mengambil duduk disamping tubuh gadis yang terbaring itu. Menggenggam tangannya seolah mengatakan bahwa ‘aku disini’.

Eun Ji beralih menatap Baek yang berdiri disudut ruangan sambil melipat tangannya didepan dada.

‘Bisakah kau membawaku pergi bersamamu? Aku tidak ingin sendirian di dunia ini.’ Meski Eun Ji tidak mengucapakan sepatah kata pun. Tatapan Eun Ji telah menjelaskan pada Baek segalanya.

“Kau tidak bisa membuat keputusan secara sepihak. Jika kau tidak ada, aku juga tidak ada,” ucap Baek.

“Aku berada disisimu untuk waktu yang ditetapkan,” lanjutnya.

Misi Baek adalah menjadi guardian angel Eun Ji selama Eun Ji hidup dan selama Eun Ji masih berkesempatan hidup. Eun Ji bisa selamat dari kecelakaan itu, tidak lepas dari Baek sebagai malaikat penjaganya. Meski semua tergantung pada kehendak Tuhan.

Eun Ji mendekati tubuhnya yang terbaring. Dalam satu sentuhan, ia menghilang.

–oOo–

Eun Ji hanya duduk diatas kasur dengan selang infus menempel ditangan kanannya. Matanya sibuk menatap keluar jendela dengan bulir-bulir bening yang kini menempel dipermukaannya. Setidaknya, suara rintik hujan membantu melenyapkan kesunyian dalam ruangan redup itu.

“Eun Ji-ah, sekarang bagaimana keadaanmu?”

Chae Rin melangkah masuk dan mengambil duduk disamping Eun Ji.

“Sekarang sudah lebih baik.” Eun Ji mengukir senyuman diwajahnya.

“Tentang ayahmu. Aku turut berduka cita…”

“Terimakasih… Jangan khawatirkan senyumanku. Aku gadis yang kuat,” jelas Eun Ji.

“Aku tahu.”

Eun Ji kembali menatap jendela disampingnya. Tampaknya, hujan berhasil menarik perhatiannya.

“Bagaimana reaksimu jika kau tahu saudara kembarmu memberikan ginjalnya untuk menyelamatkanmu?” tanya Eun Ji tiba-tiba.

“Apa maksudmu?”

“Aku merasa ia sedang mengawasiku sekarang. Jika kau tahu, kau pasti akan membenci dirimu sendiri, kan? Aku benci diriku yang tidak tahu apapun. Saat aku bangun aku tidak melihatnya lagi untuk waktu yang cukup lama. Itu membuatku frustasi.”

“Ini bukan salahmu. Kudengar saudaramu memiliki kelainan jantung yang cukup parah. Kau melewatkan rasa sakit yang dialaminya jika ia hidup sampai saat ini.”

“Bagaimana jika aku yang memberikan jantungku padanya? Apa keadaannya masih sama?”

Chae Rin menghela napasnya.

“Aku yakin ia mendapat tempat yang layak karena hidup untuk menyelamatkan saudaranya. Aku yakin ia baik-baik saja dan merasa senang bisa melindungimu sekarang.”

Eun Ji mematung. Pikirannya beralih ke saat dimana malaikat bernama Baek mengatakan bahwa ia telah menyelamatkan Eun Ji berulang kali.

“Jika kau tidak ada, aku juga tidak ada.”

Ucapan itu terus terngiang dikepala Eun Ji belakangan ini. Ternyata Eun Ji mengingat pertemuannya dengan malaikat bernama Baek. Ia bahkan tidak terkejut ketika Chae Rin menceritakan tentang ayahnya.

Eun Ji benar-benar tak mengerti. Lagi pula, mengapa makhluk langit memberitahu manusia rahasia mereka?

Mungkin Baek malaikat yang lupa menghilangkan ingatannya, pikir Eun Ji.

–oOo–

Keadaan Eun Ji sudah jauh lebih baik sekarang. Ia berusaha hidup mandiri, meskipun ia kesulitan mencari pekerjaan untuk membiayai kebutuhan hidup dan kuliahnya. Eun Ji tidak sendiri, ada Chae Rin yang membantunya.

Matahari musim semi yang mulai meninggi, tampaknya cukup mempengaruhi langkah Eun Ji. Sesekali Eun Ji harus meminta maaf pada orang-orang yang ditabraknya. Arloji pink yang melingkar ditangan kirinya telah menunjukan pukul 10.05 dan ia terlambat lima menit jika ingin naik kereta cepat.

Saat tiba di peron, kereta sudah melaju. Semua penumpang telah naik dan Eun Ji ketinggalan kereta. Ia bahkan tak sempat mengatur napas.

Eun Ji memenggangi dahinya, frustasi. ‘Apa aku akan membolos lagi? Ish!’ umpatnya kesal.

Hanya terlihat beberapa orang yang berlalu-lalang ditempat itu.

Hening.

Eun Ji memilih duduk dikursi tunggu sembari mengatur napasnya. Menundukkan wajah pasrahnya.

Sepasang sepatu sneakers hitam kini tertangkap oleh indra penglihatannya yang fokus kebawah. Saat ia mengangkat wajahnya, sesosok lelaki berdiri didepannya.

Tanpa ia sadari, rahang bawahnya turun secara perlahan.

Lelaki berbalut kaus putih dengan jaket kebiruan sepanjang lutut, dipadukan dengan celana jeans gelap dan sepatu sneakers hitam. Wajahnya memang terlihat sangat mirip, namun irisnya tak lagi berwarna kebiru-biruan.

“Annyeong.” Sapa lelaki itu pada Eun Ji yang kini membeku.

“A-annyeong.”

Eun Ji berdiri didepannya, pandangannya sejajar dengan dada lelaki itu.

Hening.

“Aku kehilangan sayapku. Aku jatuh cinta pada manusia,” jelas lelaki itu.

Eun Ji menatap lekat kedua mata lelaki itu. Ia menyadari, iris lelaki itu tak lagi berwarna kebiru-biruan melainkan hitam. Ia tampak seperti lelaki biasa, manusia.

Sontak Eun Ji merangkul leher lelaki itu dengan bahagia. Membiarkan mimpi ini menjadi kesempatan yang sangat berharga.

“Serindu itu kah padaku?”

Eun Ji melepaskan rangkulannya. “Bagaimana bisa Baek…”

“….Hyun. Byun Baek Hyun. Sekarang itu namaku.” Baek Hyun menunjukkan deretan gigi putihnya.

“Kuharap ini bukan mimpi.”

“Sesenang itu kah?”

“Ya. Aku sangat senang.” Eun Ji memeluk Baek Hyun lebih dalam, ia sangat terharu. “Itu pasti menyakitkan untukmu.”

Baek Hyun membalas pelukan Eun Ji, mengusap rambutnya, menyalurkan rasa rindunya pada Eun Ji. Baek Hyun menjadi hal yang sangat istimewa, terutama untuk Eun Ji.

Meskipun ia harus melepaskan sayapnya, dan… kehilangan kehidupan kekalnya. Alasan Baek Hyun bahagia, karena Eun Ji adalah kebahagiaannya. Yang membuatnya merasa abadi.

“Saranghae,” lirih Baek Hyun ditelinga Eun Ji.

END


Special picture from someone who loves Baekhyun (Read : Ismi L) Thank you ^^

A/N :

Thank’s for reading! ^^

Bingung sama ceritanya?
Kalo gitu sama XD.

Akhirnya FF ini bisa terselesaikan, meskipun aku tahu ini masih hancur. Aku harap kalian bisa membayangkan maksudku XD.

Aku yang capek nulis dan nggak minta uang atau pujian kok. Cukup kebesaran hati kalian agar aku bisa memperbaiki tulisan-tulisan retak ini kedepannya. Oh ya, jika respon mencukupi (gak mungkin) akan dibuat sequelnya.
Review?

Scheduler = Penjadwal atau Malaikat penjadwal
Guardian Angel = Malaikat pelindung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s