1010

abfca37cjw1f1yw4s40ayj20qo1400wk

Original Image Source :
Bambi/Fyeah!Luhan

-1010-

Aku bahkan tidak tahu seberapa tingginya dirimu dari pandanganku, sebesar apakah telapak tanganmu, sepanjang apakah lengan yang diperlukan untuk memelukmu. Aku hanya bisa membayangkan apa yang dikatakan orang tentang dirimu. Kekaguman berubah menjadi obsesi yang kadang sulit dikendalikan. Bahkan senyuman diwajahmu, mampu membuatku tersenyum sepanjang hari walau hari itu terasa sulit dan menakutkan. Kesepian mungkin akan datang, tapi semua akan baik-baik saja karena Tuhan menolongku dan Dia akan menolongmu juga.

Kadang lagu yang kudengar di malam hari membawaku pada mimpi tentang dirimu dan aku berharap kita akan bertemu setiap malam dengan bahasa yang bisa dimengerti satu sama lain. Agar aku bisa bercerita banyak hal dan kau bisa memahaminya. Ada banyak hal yang ingin kukatakan tapi aku yakin dikehidupan nyata ini akan sedikit berbeda.

“Kuharap ini bukan mimpi.”

“Tentu saja ini bukan. Apa yang harus kutulis dibawah tanda tanganku?”

Luhan tersenyum kearahku. Mereka benar. Aku bisa melihat bahwa lelaki itu punya iris kecoklatan. Dan itu sangat menawan.

“Hanya… gadis pemalu yang mencintai Luhan,” kataku sambil tersenyum kering.

Luhan terlihat malu namun tetap menggerakan alat tulisnya, menggoreskan sesuatu pada kertas putih miliku.

“Apa kau benar-benar mencintaiku?” tanya Luhan.

“Ya, tentu. Aku akan melindungimu seperti aku melindungi orang-orang yang kucintai.”

“Aku juga mencintaimu. Tapi kita tidak bisa saling memiliki, kau tahu ‘kan?”

Aku mengusap air mataku, mengembangkan senyuman terbaikku. Percayalah, bahwa aku benar-benar bahagia.

“Tidak apa. Aku akan melihatmu dari sisi yang tidak bisa dijangkau olehmu. Aku disana selalu.”

“Terimakasih.”

Luhan mengulurkan tangannya sambil tersenyum puas.

Aku menerima uluran tangannya, menikmati pertemuan ini. Aku mengambil kertas putih milikku yang sudah tertanda tangan olehnya.

“Kuatlah!” Luhan tersenyum manis.

“Tentu, terimakasih banyak.”

Aku memeluk lembaran putih itu dengan sangat bahagia. Demi apa… aku mendapat tanda tangan seorang LUHAN! Aku bahkan berbicara dengannya dan dia sangat menawan!

Setiap kali aku membaca apa yang di tulis Luhan dalam selembar kertas putih itu, aku mendapat kekuatan baru.

Tulisan yang tidak begitu rapih namun masih layak untuk dibaca itu, mampu memberiku kekuatan sebagaimana senyumannya. Aku mengenangnya setiap hari. Jika aku lupa, aku akan melihatnya sekali lagi. Lagi dan lagi.

Melihat bagaimana mereka berdiri tanpa rasa sakit, selalu membuatku ingin memberikan segala sesuatu yang kumiliki.

“Aku disini. Diantara ribuan titik yang bersinar. Memandangmu dari kejauhan. Memanggil namamu walau suaraku mungkin tak selantang itu untuk bisa didengar.”

Ini sangat rumit. Aku mencintainya. Aku bersedia merelakan segala sesuatu untuk membuatnya bahagia. Tapi aku bahkan tidak punya jalan untuk mencoba. Aku hanya tidak mampu dan rapuh. Terdengar berlebihan bukan? Menjadi orang biasa tidak membuatku terlihat seperti seorang yang punya mimpi, atau sebaliknya? Aku tidak tahu.

-1010-

“Bisakah aku percaya ini tuan Lu? Ini tidak lucu. Apa orang-orang itu bodoh? Memangnya apa yang mereka kerjakan selama ini?!”

Aku tidak berhenti mengumpat dihadapan Luhan. Dia hanya menunjukkan senyum seadanya seolah tertusuk ucapanku.

“Ini tidak benar ‘kan?”

“Bagaimana dengan ‘Ya’?”

“Aku tidak bisa mengerti. Aku akan membencimu.”

“Tidak apa. Itu hak mu. Terimakasih sudah peduli padaku selama ini.”

Kadang dimalam hari saat lagu mereka yang kudengar membuatku menangis, aku membayangkan itu. Seorang Luhan pergi dengan kekesalan. Membereskan barang-barangnya ditemani tatapan tak habis pikir dari sepuluh temannya yang mulutnya seolah terkunci rapat. Berusaha untuk tidak memberikan saran gegabah. Tidak ada yang bisa mereka lakukan. Menahannya hanya memperburuk keadaan. Hanya terdiam, merasa dikhianati untuk kedua kalinya. Mereka berkata dalam hati masing-masing ‘siapa berikutnya?’.

Aku bisa berubah membencinya. Tidak. Aku akan membencinya. Terlalu membencinya hingga lupa menghargai kenangan.

Seharusnya tidak. Karena itu berarti aku berbohong pada Luhan saat itu. Aku tidak melindunginya dengan cara yang benar dan Luhan tidak memberiku kesempatan untuk menyembuhkan lukanya.

Mereka benar. Tidak ada yang salah. Cukup melihat dari dua sudut yang berbeda.

Dua sudut yang pada akhirnya memberi kami pilihan. Aku diantaranya. Sia-sia.

I just wanna Luhan to know that I love him.

-Fin

A/N :
Berawal dari mimpi.

Liviayeon ♡

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s