[Drabble] I For You

Luhan, OC/You // Romance, Fluff, School life // Drabble

“I for you, right?”

-oOo-

Sejak Luhan, si kapten tim basket menyebalkan itu, mengacungkan jari telunjuknya kearahku ketika pemilihan manajer tim basket sekolah. Hidupku yang rumit menjadi semakin rumit.

Jelas saja, para gadis yang menyebut diri mereka club penggemar Luhan, memincingkan matanya kearahku, menatapku dengan tatapan ingin membunuhku. Oh tidak, lelaki itu sungguh menyebalkan. Tidak ada kata lain yang dapat menggambarkan keadaanku saat ini selain, sial.

Pernah muncul pertanyaan dalam benakku tentang mengapa lelaki itu mengangkatku menjadi manajer dari sekumpulan lelaki penggila benda bundar berbahan karet itu. Aku bukan orang yang istimewa, aku tidaklah lebih cantik dari Yoona di kelas tetangga, dan lebih seksi dari Yuri sepupu sahabatku. Aku hanya masuk di kelas yang sama dengan Luhan, dan hubungan kami tidak begitu dekat. Bepikir Luhan menyukaiku adalah salah besar. Kurasa tidak perlu kusebutkan nama-nama gadis yang pernah dekat dengan lelaki bermata rusa itu, juga banyaknya gadis yang merasa tersakiti olehnya. Semua gadis seantero sekolah akan langsung mengakuinya jika kubilang lelaki itu tampan. Aku tidak bermaksud memuji, itulah kenyataannya.

“Haneul, kau terlihat cantik dengan pita itu.” Kai duduk tepat disamping kananku memperhatikan pita hitam dengan corak titik putih yang kulilitkan dikepalaku.

“Bukan apa-apa, aku hanya tidak tahu apa yang kulakukan dengan rambutku. Lagi pula, apa yang kau lakukan disini? Seharusnya kau ikut latihan bersama Luhan disana untuk pertandingan minggu depan,” ucapku sambil menatap kearah Kris, Chanyeol, Sehun dan Baekhyun yang masih sibuk merebut bola di tangan Luhan. Jujur saja aku tidak enak jika harus berbicara lama dengan lelaki ini. Aku tidak ingin Luhan dan yang lainnya memikirkan hal-hal yang sama sekali tidak terjadi.

“Mengapa kau setuju jadi manajer kami? Bukankah hal itu sangat membebanimu?” tanyanya.

“Aku tidak terbebani …” Aku telah di benci banyak gadis disekolah karena pekerjaan baruku ini. Aku juga harus membagi waktu untuk belajar, aku yang mencuci pakaian penuh keringat mereka itu, membawakan minuman, hingga mengurus jadwal pertandingan mereka. Tapi semua itu tidak pernah menghentikanku menjadi manajer tim basket itu. Entahlah, aku tidak tahu alasannya. Aku masih bingung dengan diriku sendiri. “… aku tidak merasa seperti itu, aku hanya merasa senang bisa membantu kalian,” jelasku.

Beberapa saat kemudian Luhan dan yang lainnya terlihat melangkah kearah kami. Raut wajah yang menandakan kelelahan, sudah jelas dengan piluh yang membasahi hampir di sekujur tubuh mereka.

“Apa itu dikepalamu? Terlihat aneh,” ucap Luhan dengan nada mengejek. Ia membuka penutup botol mineralnya dan mulai memasukan isinya ke dalam mulut.

“Aku tidak membutuhkan pendapatmu,” ucapku dengan nada menantang. Menyebalkan, lelaki itu sangat menyebalkan.

“Hei, apa yang kalian lakukan? Apa kalian pasangan suami istri yang sedang bertengkar? Ayolah jangan sekarang,” ucap Baekhyun memecah keheningan dengan suara dua oktavnya.

“Dia yang mulai.” Aku dan Luhan kini saling bertukar pandang, setelah sadar kami mengucapkannya secara bersamaan.

-oOo-

Saat bel panjang berbunyi, seluruh penghuni ruangan dikelas kami telah berhamburan keluar. Kabar buruknya, beberapa menit yang lalu aku mendapat pesan dari Luhan yang isinya memohon untuk menemani lelaki itu berlatih basket. Aku hanya bisa menghela napas pasrah, sembari melangkahkan kaki menuju ke ruang olahraga.

Sesampainya disana, aku hanya mendapati Luhan seorang diri tengah mendribble bola karet itu dan memasukannya kedalam ring. Hanya kemeja putih yang dikenakannya, sedang blazer hitamnya dilepaskan asal di kursi pemain. Itu merupakan lapangan basket yang tertutup, dengan puluhan kursi penonton yang mengelilinginya.

“Kau sudah datang?” tanyanya sambil menghentikan kegiatannya dan kini duduk bersebelahan denganku. Jarak sedekat ini dengan Luhan belum pernah kubayangkan sebelumnya. Entah sejak kapan aku mulai merasa jantungku berdebar lebih cepat. Aku bisa mendengar suara napasnya yang tidak beraturan. Sementara aku masih berkutat mencari pertanyaan yang bisa memecah keheningan ini.

“Kenapa berhenti?” Hanya pertanyaan bodoh yang kulontarkan saat ini. Aku bahkan terlihat bodoh dihadapannya.

“Kau ingin aku terus bermain?” tanyanya balik sambil menatapku. Belum pernah kulihat ekspresi serius seperti itu diwajahnya. Ini pertama kalinya. Demi apapun, ia sangat tampan dan aku hanya bisa mengaguminya dalam diam.

“Aku sibuk, dan kau menyuruhku kemari untuk …”

Aku terkejut, sangat-saat-ia menyentuh bibirku dengan bibirnya. Kelopak mataku menutup secara otomatis. Bisa kurasakan hembusan napasnya dan sebagian piluhnya yang kini mengenai wajahku. Untuk sepersekian detik ia berhasil menghentikan duniaku, membawaku dalam dunianya.

“… untuk mengatakan bahwa aku menyukaimu. Apa itu salah?”

Luhan? Mengatakan perasaanya padaku? Lelaki menyebalkan itu menyukaiku? Aku tidak bisa mengatakan apapun sekarang. Entahlah, hanya saja sesuatu mendorongku untuk merasa bahagia. Aku benar-benar bahagia. Apa perasaan itu untuknya?

“I for you, right?” tanyaku.

Dan seulas senyum manis kini mengembang diwajahnya.

-Fin

Advertisements